As Syam.

406578_401146203293795_1544981647_n

Syam,
Di saat kecamuk di ambang akhir
senyum terkuntum seribu butir
lalu darah kering yang dulu mengalir
menuntut janji yang mungkin mungkir.

Burung nasar pun hinggap di ranting pinggir
merenung sasaran yang ditabir
di balik roti dan cangkir air
menipu mereka yang tersasar fikir.

Syam,
Ingatlah ketika kau dihujani batu
kawanan burung itu hanya membatu
walau kau pilu merayu bantu
mereka hanya berkicau kaku.

Lalu lahir di kalangan kamu
pemuda yang ikhlas bangkit membantu.
mereka adalah Abu Ubaidah al Jarrah
mereka adalah Khalid al Walid Saifullah.

Pewaris teras Pasukan Tabuk!
Pewaris keras serbuan Yarmuk!

Memukul tangkas pelempar batu
terhoyong hayang menanti waktu
untuk kerandanya dipaku.

Rapat-rapat!
Kedap-kedap!

Supaya bau bangkainya tak menyelinap!

Nanti di atas puing-puing itu
lalu dirikanlah istana yang baru
mewarisi apa yang pernah dibina leluhurmu
empat belas abad yang lalu
penebar rahmat seluruh penjuru.

Walau burung-burung nasar mula mengintai
berkicau mecela pembela yang membelai
ku tahu kau tak akan terpesona
pada racun durjana bersalut gula.

Syam,
Sesungguhnya revolusimu belum beakhir
teruskan langkah siap siagamu yang perkasa itu
hingga burung nasar yang celaka
kau paksa berkata seperti leluhurnya dahulu;

“Selamat tinggal Syam yang indah dan permai
Selepas ini kita tidak lagi mungkin bertemu!”

FM
12/12/2012

3 Comments (+add yours?)

  1. Ain Syahirah Mansor
    Jul 10, 2013 @ 19:23:25

    allah ..sangat menarik penulisannya. alhamdullilah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: